Dasar-Dasar Agama Hindu

Jumat, 03 Maret 2017

Melik Hindu

Melik
” Melik” merupakan istilah yang sering didengar di lingkungan masyarakat Bali. Melik adalah suatu anugrah pada saat kelahiran anak yang teramat besar dari Ida Sang Hyang Widhi. Dalam Lontar Purwa Gama disebutkan bahwa Anak yang memiliki melik mempunyai rerajahan sejak lahir yang dapat menimbulkan kematian, sehingga diperlukan upacara pebayuhan otonan melik pada si anak untuk menetralisir kekuatan tersebut dan selalu ingat dalam melaksanakan suci laksana untuk mempertahankan dan meningkatkan kesucian diri.

Rerajahan yang terdapat pada orang melik biasanya terdapat di telapak tangan, dijidat atau di bagian tubuh tertentu selain itu juga bisa terdapat tanda senjata terkadang terdapat salah satu dari sembilan senjata pengider bhuwana tergantung tugas yang diemban sang anak lahir ke dunia, dengan rerajahan senjata para dewa seperti:
1. Bajra
2. Gada
3. Nagapasa
4. Cakra
5. Dupa
6. Angkus
7. Trisula
8. Moksala
9. Api dan Angin

Tentu jika ingin melihat tanda-tanda berupa sejata diatas pada orang melik tidak dapat dilihat dengan kasat mata/ mata orang biasa. Melik atau tidaknya seseorang biasanya diketahui setelah matetuun atau mepinunas pada sulinggih atau balian. Orang yang melik mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang biasa pada umumnya.
Ia disenangi semua golongan roh halus, baik itu roh yang bersifat negatif (butha) juga para dewa-dewi.
Ciri-ciri Anak Melik
Kelahiran “melik” terlihat dari tanda-tanda di tubuhnya, antara lain :
1. Ketika lahir, badannya dililit tali plasenta beberapa kali putaran. Kelahiran seperti ini sangat jarang terjadi, dan kalau ada, kebanyakan mati beberapa saat sebelum keluar dari rahim ibunya.
2. Ketika tumbuh berumur +/- 2 tahun, rambut di kepalanya kusut (sempuut). Walau digundul, tumbuhnya sempuut lagi.
3. Kepalanya mempunyai pusaran (usehan) 3 atau lebih
4. Lidahnya poleng (ada warna hitam/coklat)
5. Ada tahi lalat besar (maaf) di kemaluannya
Semakin cepat seseorang mengetahui dirinya memelik maka semakin bagus sehingga akan segera dibuatkan upacara penebusan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk dari memelik.
Jika tidak mendapat banten penebusan maka biasanya orang yang memelik sesuai dengan kelahirannya ada yang diambil pada saat baru bisa berjalan, ketika baru menikah dalam upacara pawiwahan, dan ada juga pada saat baru mempunyai anak. Dengan pebayuhan melik akan dinetralisir kekurangan yang ada dalam dirinya (menghilangkan apes pengaruh melik). Supaya semua kekuatan bersinergi, agar dapat keseimbangan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit.


Merawat Anak Melik
Orang yang melik sesungguhnya sangat beruntung. Dalam urusan spiritual, secara alami sudah jauh lebih maju dibandingkan orang-orang biasa. Ibarat dari lahir memang dipersiapkan untuk memasuki alam-alam suci para Ista Dewata atau mencapai Moksha. Dengan tekun saja membina diri, menjaga diri dan tidak melakukan kesalahan fatal, sampai waktu kematian menjemput, maka sangat mungkin dapat memasuki alam-alam suci para Ista Dewata atau mencapai Moksha. Berbeda dengan orang-orang biasa yang harus berjuang keras.
Anak melik biasanya “kerinyi” (bahasa Indonesia : sensitif, mudah tersinggung, mudah marah, dll). Jadi ia perlu diperlakukan beda, misalnya kamar tidurnya harus selalu bersih dan suci, ada pelangkiran diatas hulu tidurnya. Ia perlu sering-sering melukat ke Gerya, makanannya di jaga agar selalu memakan makanan yang satwika (makanan bersifat kebaikan/sehat). Banyak bergaul dengan orang-orang suci, karena dia merasa dekat dengannya. Kalau makin dewasa, berikan pelajaran agama yang intensif, panggilkan guru agama kerumah untuk les, dan berikan pelajaran spiritual secara bertahap. Nanti ia akan berumur panjang dan menjadi orang suci, karena atman (roh) nya sudah dalam kondisi siap menerima lanjutan kemampuan supranatural.

Kita semua terlahir kembali sebagai manusia dengan membawa energi kita sendiri masing-masing. Diantaranya adalah energi kesadaran, energi kesiddhian, energi karma, energi kebiasaan, energi kecenderungan, dsb-nya.
Salah satu istilah untuk menunjuk pada energi kelahiran kita di Bali disebut “melik”. Sebenarnya melik disebabkan karena energi kesiddhian dan energi karma kita sendiri yang kita bawa dari kehidupan sebelumnya. Umumnya orang melik di kehidupan sebelumnya melakukan praktek spiritual tertentu yang ada kaitannya dengan kesiddhian [kesaktian]. Praktek spiritual tersebut menghasilkan kekuatan energi tertentu, yang ikut terbawa sebagai energi kesiddhian dan energi karma ke dalam kelahiran sekarang. Inilah yang sesungguhnya terjadi pada orang melik.
Pertandanya berbeda-beda tergantung bagaimana di kehidupan sebelumnya. Misalnya secara alami [tanpa melakukan praktek spiritual apapun] disebabkan karena energi kelahiran, bisa melihat kehadiran mahluk-mahluk halus, atau bisa mendengar suara-suara dari alam niskala [alam tidak kelihatan], atau punya kepekaan dengan getaran energi niskala, atau pada tubuh terdapat tanda kelahiran tidak biasa [seperti berbentuk bunga padma, swastika, dsb-nya], atau sering mimpi tangkil ke pura, atau sering mimpi didatangi para Dewa-Dewi, atau sering mimpi yang menjadi kenyataan [melihat masa depan melalui mimpi], dsb-nya.
Sering dikatakan bahwa orang melik akan berumur pendek dan itu memang terkadang ada benarnya, disebabkan dua faktor.
Pertama
 [1] karena orang melik di dalam dirinya memiliki kekuatan energi yang jauh lebih besar dari orang kebanyakan. Energi ini sangat perlu disalurkan atau diekspresikan, karena jika tidak maka orang melik tersebut akan mengalami gangguan emosi [mudah marah, mudah sedih, mudah lelah, mudah depresi, dsb-nya], atau sering sakit kepala, atau sering pingsan, dsb-nya. Kadang-kadang akan muncul dalam bentuk kerauhan [kesurupan].
Jika energi ini tidak disalurkan atau diekspresikan dalam jangka waktu lama, energi ini dapat merusak tubuhnya sehingga membuat orang melik mengalami sakit yang berat [jenis sakitnya berbeda-beda tergantung masing-masing]. Selain itu, jika energi ini tidak disalurkan atau diekspresikan dalam jangka waktu lama, energi ini dapat menimbulkan kekacauan bagi kehidupan orang melik seperti sering mengalami kecelakaan, atau sulit mendapat rejeki, atau sulit ketemu jodoh, atau sulit mendapat keturunan, atau tidak disukai orang, atau bercerai dengan pasangan, atau sering kena tipu, dsb-nya.
Kedua
 [2] karena orang melik laksana permata kemilau yang menarik perhatian para Dewa-Dewi atau para mahluk alam-alam bawah.
Jika orang melik tersebut rajin memurnikan diri [melukat] di parahyangan suci sakral tertentu, jarang melakukan perbuatan atau perkataan yang berdampak menyengsarakan atau menyakiti mahluk lain, serta punya hati penuh belas kasih, penuh pengertian dan sering melakukan kebaikan-kebaikan, maka orang melik akan menarik perhatian para Dewa-Dewi. Ini merupakan langkah yang agak aman. Dia akan menjalin hubungan dengan para Dewa-Dewi. Kalaupun dia ada didatangi mahluk-mahluk bawah mereka datang untuk mencari pertolongan dan bukan untuk menipu.
Sebaliknya jika orang melik tersebut jarang memurnikan diri [melukat] di parahyangan suci sakral tertentu, sering melakukan perbuatan dan perkataan yang berdampak menyengsarakan atau menyakiti mahluk lain, punya sifat mementingkan diri sendiri, apalagi sering melakukan kejahatan, maka orang melik akan menarik perhatian para mahluk alam-alam bawah. Dia akan menjalin hubungan dengan “para Dewa-Dewi” [tapi sesungguhnya tipuan mahluk alam-alam bawah yang menyamar] dan bahkan ada yang mengikat janji dengan mereka. Ini merupakan langkah yang sangat berbahaya. Dampaknya adalah orang melik seperti ini kelak ketika meninggal akan ditarik ke alam-alam bawah. Dalam beberapa kasus yang ekstrim, bahkan orang melik seperti ini dengan tidak sabar ditarik ke alam-alam bawah, bisa tiba-tiba meninggal dengan cara bunuh diri, tabrakan, dsb-nya.
Energi melik tidak akan pernah bisa hilang sebelum kita mati, tidak peduli apapun upaya atau ritual yang kita lakukan. Yang bisa kita lakukan adalah mengubah energi melik ini menjadi sesuatu yang berguna, sehingga energi melik ini menjadi “karunia luar biasa” dan bukan menjadi musuh melik ini akan menjadi karunia kehidupan jika kita :
[1]. Rajin memurnikan diri [melukat] di parahyangan suci sakral tertentu setidaknya satu kali setiap bulan pada rahina suci. Ini bertujuan untuk memurnikan energi melik di dalam diri, agar energi tersebut tidak menjadi energi yang mengganggu emosi, menjadi sakit, atau menimbulkan kekacauan bagi kehidupan.
[2]. Punya hati penuh belas kasih, penuh pengertian dan sering melakukan kebaikan-kebaikan, sehingga energi melik tersalurkan dan terekspresikan menjadi energi yang indah, yang menyembuhkan jiwa dan raga. Rasakan sendiri bagaimana mekarnya perasaan bahagia di dalam diri ketika mengekspresikan energi melik untuk menolong, menyelamatkan, atau memberikan kebahagiakan untuk mahluk lain.
[3]. Berusaha keras menahan diri dari perbuatan dan perkataan yang menyengsarakan atau menyakiti mahluk lain, serta menahan diri dari sifat-sifat mementingkan diri sendiri. Jangan terseret energi kemarahan, kebencian, keserakahan, jangan hanya memikirkan diri sendiri [tidak memikirkan masalah atau kesengsaraan orang lain], jangan sedih terlalu dalam, jangan sombong, dsb-nya. Dengan tujuan agar energi melik tidak tersalurkan dan terekspresikan menjadi energi yang sangat menyeramkan. Yang tidak saja akan membuat orang melik menarik perhatian para mahluk alam-alam bawah, tapi juga membuat energi melik menjadi energi yang mengganggu emosi, menjadi sakit, atau menimbulkan kekacauan bagi kehidupan.
[4]. Tekun mempraktekkan meditasi kesadaran [bukan meditasi kesiddhian], sehingga energi melik tersalurkan dan terekspresikan menjadi energi spiritual yang melontarkan kesadaran orang melik pada dimensi kesadaran Atma yang tinggi.
[5]. Selektif dalam makanan dan minuman, selektif dalam pergaulan, tidak tidur di sembarang tempat, tidak pergi ke sembarang tempat, serta tidak melanggar dresta-dresta yang ada di pura saat tirtayatra.
Dumogi stata shanti lan rahayu sareng sami





Tidak ada komentar:

Posting Komentar